Selasa, 13 November 2018

Perihal Rasa, Kepada Kamu yang Tak Pernah Merasa




Parangbanoa, 05 November 2018-- 22:23 WITA
Lagu 7!!-Orange berkumandang di gendang telingaku. Salah satu lagu favorit yang kudapat dari soundtrack sebuah film anime berjudul Shigatsu wa kimi no uso. Aku sedang di kamarku—tempat paling nyaman untuk melakukan kegiatan menulisku. Tapi, bukan menulis sesuatu yang bermanfaat. Ini sama sekali tidak memiliki manfaat kepada kalian yang membacanya. Pasalnya, tulisan ini adalah suara hatiku yang sudah dirangkai menjadi barisan kata-kata. Apa yang bermanfaat dari membaca curahan hati seseorang? Sebelumnya, aku ingin berterima kasih kepadamu. Tuan.
©
Aku suka menulis tentang kamu, tentang aku ke kamu. Karena dalam tulisan sosok kamu bisa abadi. Tidak seperti di kehidupan nyata. Kamu tak lebih dari sekadar halusinasi, ilusi yang mengisi mimpi mimpi. Maya, khayalan semata. Atau, Nyata tapi tak teraih. Asal kamu tahu saja, walau sekarang aku bermandikan ragu, berlumuran cemburu, aku masih saja padamu. Iya, masih merelakan sebelum memiliki.
Apakah kamu tahu? Selain dalam tulisan, dimana saja sosokmu bisa abadi? Kupikir, tanpa aku menjawabnya kamu bisa mengetahuinya hei Tuan penuntut kebebasan. Tapi sekarang kita tidak sedang bermain tebak-tebakan. Aku akan menjawabnya. Dan tentu saja kamu abadi dalam imajinasiku. Aku bahkan sudah berpikir akan ke psikiater karena hal ini. Untuk kali pertama seorang laki-laki yang bahkan bertukar sapa denganku saja tidak pernah, mampu mengisi otakku dalam keadaan sadar bahkan ketika aku sedang tidak sadar.
Jujur saja awalnya aku merasa risih dengan hal ini. Dulu, ketika pertama kali aku mengetahui bahwa perasaanku padamu bertepuk sebelah tangan, bohong jika aku mengatakan bahwa aku biasa saja dan tetap baik-baik saja. Saat itu makan pun tidak mampu menghiburku. Aku merasa sedih dan kecewa secara bersamaan. Tapi dari situ kupikir ada pelajaran yang bisa diambil. Pelajaran untuk jangan mudah jatuh ke dalam pesona laki-laki yang tidak kau kenal dekat. Pelajaran untuk jangan menyukai laki-laki yang tidak memiliki hati, atau mungkin berhati tapi sekeras batu. Pelajaran agar jangan jatuh hati pada laki-laki yang tidak peduli urusan cinta dan perasaan.
Saat itu aku merasa kasihan kepada diriku. Kamu adalah laki-laki pertama yang aku sukai lebih dulu. Kamu adalah laki-laki pertama yang merebut hatiku dari sosok ayah. Kamu adalah laki-laki pertama yang aku harap akan menjadi rekan hidupku kelak. Tapi sayangnya perasaanku padamu hanyalah perasaan sendirian tanpa balasan. Kamu tidak demikian terhadapku. Aku dimatamu hanyalah  teman se-angkatan, saudara, tidak lebih dari itu.
Beberapa saat setelah hari menyakitkan itu, aku mulai berpikir untuk bangkit dan mencoba melupakanmu. Maksudku, mencoba melupakan perasaan yang tumbuh di luar kendaliku. Aku mulai menerima obrolan yang muncul di media sosialku. Aku mulai mencoba membuka hati untuk orang yang baru. Aku juga mulai melakukan saran yang diberikan sahabatku untuk mengenal lebih banyak laki-laki di luar sana. Semata-mata hanya untuk menghilangkan perasaan yang sudah tumbuh lebat di dasar hatiku.
Dan akhirnya aku melakukannya. Aku mulai dekat dengan salah satu teman media sosialku. Kebetulan kami satu kampus, hanya beda Fakultas. Setiap hari saling chatting-an dan kabar-mengabari.  Aku juga dekat dengan dua laki-laki lain berkat saran temanku, dan berlangsung dengan saling chatting-an hingga larut malam. Sampai akhirnya aku merasa bosan.  Bagaimana tidak? “lagi apa?”, “sudah makan?”, “sudah sholat?” percakapan mainstream yang membuatku benar-benar malas untuk menanggapinya. Apalagi semua mengirimi pesan yang sama sebanyak lima kali sehari. Bagiku, mereka tidak perlu selalu tahu apa saja hal yang sedang kulakukan. Makan adalah kebutuhan sedangkan sholat adalah kewajiban, dan aku tidak perlu diingatkan hal semacam itu. Aku butuh sesuatu yang tidak biasa dan mampu membuatku mencapai tujuanku melakukan ini. Aku butuh seseorang seperti kamu, bukan macam laki-laki kurang kerjaan seperti mereka. Tuh kan, aku mengingatmu lagi.
Bagaimana aku tidak bisa lupa?  Sebenarnya, aku sering membanding-bandingkan kamu dengan seseorang yang sedang dekat denganku. Kamu yang begini, kamu yang begitu, kamu yang selalu berbeda namun menarik, kamu yang tidak lekas membalas perasaanku.
Setelah lelah untuk mencoba melupakanmu, akhirnya aku menyerah. Ini tidak semudah menjawab soal integral dan diferensial. Butuh waktu, butuh mental kuat, butuh hati yang sembuh atas luka-luka. Dan beginilah aku, tetap bertahan dengan perasaan yang ada. Tetap berusaha untuk mengekang rasa.
Perasaanku padamu tidak serendah itu sehingga bisa dengan mudah untuk dimusnahkan. Jangan pernah menyepelekan perasaanku. Karena aku tidak akan berhenti sebelum kamu sendiri yang mengatakan padaku untuk berhenti.  Hatiku tidak mudah terbuka untuk hati yang lain. Bagaimana tidak? Jika perhatianku saja selalu tertuju kepadamu. Tak ada waktu memikirkan perasaan orang lain, jika hatiku selalu sibuk dipenuhi olehmu. Selalu kamu Tuan Abu-Abu... Selalu kamu masya… Bodohnya,  selalu saja kamu mengabaikanku.
Ketika aku memikirkan sejauh mana perasaanku padamu, aku mulai sadar bahwa perasaanku lebih dari itu. Ketika aku menyadari bahwa perasaanku lebih dari itu, hatiku terasa tidak setuju dan mengatakan lebih dari sekadar itu. Ketika hatiku mengatakan perasaanku lebih dari sekadar itu, aku baru mengerti ternyata perasaanku padamu tidak dibatasi oleh kata-kata. Tak mampu terlukis oleh kuas sang pelukis. Tak mampu diukir oleh pena sang penulis.
Bolehkah aku mengartikan apa yang kurasakan ini adalah cinta? Kamu meleburkan hatiku yang beku dengan cara yang masih belum bisa kupahami.  Kamu telah mengambil alih ruang nalarku tanpa pernah aku sadari. Kamu seperti pencuri, secara sembunyi-sembunyi  memasuki relung hatiku tanpa permisi kepada pemiliknya terlebih dulu. Keterlaluan!
Banyak tanya yang bersemayam dalam hati. Namun yang tak lekas kupahami, kamu yang tak kunjung mengerti atau aku saja yang kurang sadar diri? Apa yang bisa kulakukan? Jika harapku kepadamu kian hari kian meninggi?
Kamu tak tahu betapa senangnya aku, ketika sebelum tidur kamu adalah orang terakhir yang sempat kulihat, dan ketika aku terbangun kamu juga orang pertama yang kulihat. Seperti peristiwa kemarin, 03 November 2018 di Kodam XIV Makassar. Kamu tak tahu betapa bahagiaku saat itu tak lekas juga bertepi hingga kini.
Dari aku si gadis kaku yang pernah kamu dan kawanmu menyebutnya ‘pecinta yang tersesat’. Terima kasih Tuan Abu-Abu----ku,.
--darmianiys
© TWENTY THREE | Blogger Template by Enny Law