Senin, 07 Mei 2018

Usai Dari Kisah Yang Belum Dimulai #7

amazon.co.id



Parangbanoa. Senin, 07 Mei 2018.  20:22 WITA
Sekalipun rindu, aku tidak bisa mengatakannya lagi. Sebab aku tahu, kau sudah memilih jalanmu. Jalan yang jauh dari jangkauanku.~
Sekalipun rindu, tak ada alasan untuk mengatakannya lagi. Sekalipun ingin melihatnya,  tak ada alasan untuk menemuinya lagi. Semua sudah semakin jelas. Jalan yang dipilihnya berbeda jauh dari harapanku. Apa yang diinginkannya, berbeda jauh dengan apa harapku.
Sekarang, aku sudah belajar untuk tidak peduli. Benar-benar berusaha untuk tidak peduli padanya. Apa yang selama ini kulakukan, tidak lagi kulakukan. Menjadikan dia sebagai pembahasan dalam cerita-ceritaku bersama kawanku, mencari tahu posisi hingga apa yang dia lakukan, kini, sudah tidak kulakukan lagi.
Sedih? Itu pasti. Tidak ada perempuan yang tidak akan merasa sedih jika ia berada di posisiku. Sebenarnya, apa yang dia lakukan sudah benar. Aku juga menginginkan ini terjadi. Aku juga ingin dia menjalani kehidupan bebasnya, dengan syarat tidak ada yang akan ia rugikan, terutama diri, agama dan masa depannya. Tapi tetap saja, menyedihkan rasanya mengetahui jika ia benar-benar tak pernah melihat ke arahku. It’s hurt.
Dia, dia telah membuatku mengerti, bagaimana seorang perempuan merelakan sebelum memiliki. Dia telah memberitahuku arti kata mengikhlaskan. Dia membuatku memilih usai atas kisah yang belum sempat kumulai. Benar-benar ini menjadi pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan. Bagaimana bisa lupa? Seseorang yang mengajarkannya saja sudah menjadi mustahil untuk bisa  kuhilangkan dari otakku.
Tetap saja, aku benar-benar tidak peduli lagi dengannya. Siapa ‘adik’ kesayangannya, itu bukan peduliku lagi. Biarlah dia! Aku juga memiliki kehidupan yang harus kujalani dengan perasaan nyaman dan tenteram, tanpa ada gangguan rasa penasaran akan dirinya. Aku juga memiliki kehidupan yang harus kuhadapi dengan jiwa yang kuat, bukan lemah karena memikirkannya. Aku juga punya kehidupan yang harus kuhadapi dengan senyuman bahagia, tanpa ada rasa sedih karenanya.
Sudah cukup main-mainnya. Berhenti memperburuk diri. Berhenti dari perasaan yang hanya membuat tidak fokus terhadap apa tujuan hidup sebenarnya. He’s no good for me :D, No! I’m no good for him. That’s right?

Bagaimana Aku Kepadamu (ASH), Kamu dan Rindu-Rindu yang Kini Terlarang [SURAT]


[Surat 1]
Judul : Bagaimana Aku Kepadamu (ASH)



Parangbanoa, 22 Oktober 2017
Kepadamu Ahmad Syarif Hidayatullah, dimanapun kau berada.
Assalamualaikum!
Hari ini 22 Oktober 2017, aku ingin mengungkapkan apa yang selama ini telah susah payah kupendam, telah kucoba untuk tidak pedulikan. Sebuah perasaan aneh yang sering merampas ketenangan, meninggalkan jejak kebingungan tentang apa dan bagaimana perasaanku padamu.
Untukmu Ahmad Syarif Hidayatullah, kau mungkin tak tahu-menahu tentang hal ini, tentang perasaanku yang berbeda padamu. Tapi jika kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang berlebih seperti pada laki-laki biasanya, kau akan tahu. Dengan melihat bagaimana aku menatapmu, dengan melihat bagaimana kau sering menangkap basah diriku tengah memperhatikanmu. Tapi tidak, kupikir kau tidak akan tahu itu. Karena mungkin bagimu aku hanyalah teman se-angkatanmu, yang secara tidak sengaja se-komunitas di seni, yang secara tidak sengaja juga menjadi anggota perkusi.
Apakah kau masih ingat? Ketika kau bilang padaku: ku amanahkan ini kepadamu. Ya, waktu itu rasanya aku telah diberi tugas yang harus aku selesaikan dengan benar. Ketika itu rasanya aku harus menjaga dengan baik apa yang kau amanahkan padaku. Rasanya itu adalah barang paling berharga yang harus aku jaga hingga titik darah penghabisan.
Syarif, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Atau apa yang telah kau perbuat sehingga aku menjadi seperti diriku yang sekarang. Aku sudah berada pada titik ‘sering’ perihal mengingatmu. Perihal mencari tahu informasi tentang dirimu, kupikir akulah pemenangnya (jika memang itu dijadikan lomba).
Syarif, adakah? Adakah seseorang yang mengisi ruang kosong dalam hatimu saat ini? Adakah seseorang yang menjadi alasanmu sering tersenyum? Adakah seseorang yang membuatmu semangat untuk meraih masa depan yang sukses?
Jika ada, aku bersyukur. Karena kau mungkin tidak akan merasa sepi sendiri sebab orang itu ada. Kau akan selalu bersemangat. Kau akan selalu merasa senang. Tapi jika belum ada, jangan sedih dan jangan mencari orang lain. Karena di sini Syarif, ada seseorang yang ingin melakukan itu semua untukmu, bahkan lebih. Ada seseorang yang akan selalu ada jika kau butuhkan. Ada seseorang yang benar-benar ingin menjadi apa yang selalu kau butuhkan.
Seseorang itu ada di belakangmu, berbaliklah dan lihat siapa orang itu. Jika kau melihat banyak orang, tunggu saja hingga orang-orang itu pergi satu-persatu, dan lihat siapa yang bertahan. Atau, jika kau hanya melihat satu orang. Maka sudah pasti orang itu adalah aku.
Syarif, mengingat dirimu yang seperti itu… aku selalu penasaran, bagaimana tanggapanmu jika tahu hal ini? Maaf, maksudku dirimu yang kadang seperti anak kecil, dirimu yang kadang seperti seseorang yang adil serta dewasa sehingga mampu memimpin seluruh rakyat di Indonesia, atau bahkan se-Asia. Dirimu yang kadang seperti preman  jalanan yang suka mengganggu orang lemah. Dirimu yang selalu aku sukai.
Syarif, jujur saja, aku merasa ingin menjauh dari jangkauanmu. Aku tidak ingin berlama-lama berada di depanmu. Aku hanya ingin berada di belakangmu. Cukup di belakangmu saja, asalkan melihatmu Syarif. Walaupun untuk waktu yang lama. Aku bisa.
Aku sadar. Cinta dalam diam seperti sulit untuk menjadi hubungan yang nyata. Tapi sesulit apapun itu, aku serahkan pada Dia yang memiliki rencana, sang sutradara kehidupan. Dan aku percaya dengan kisah Fatimah dan Ali yang hubungannya diawali oleh perasaan cinta dalam diam.
Syarif, aku ingin bertanya ini sekali lagi. Tidakkah kau sadari bagaimana aku menatapmu? Tidakkah kau sadari setiap kau melihat ke arahku, selalu, selalu saja aku juga menatapmu? Tidakkah kau berpikir ada yang aneh? Syarif, ada hal yang tak bisa dijelaskan di balik tatapanku padamu. Karena ada saat dimana mata lebih mampu mengungkapkan isi hati dibandingkan mulut.
Melalui surat ini, aku telah menyampaikan apa-apa yang selama ini begitu sulit untuk kusampaikan. Karena aku tahu, perempuan sudah ditakdirkan untuk menunggu dan menerima. Jika kau telah membaca surat ini, aku akan sangat bersyukur. Jangan marah dan jangan menjauhiku. Tetaplah menjadi seseorang yang aku tahu. Tetaplah menjadi seorang Ahmad Syarif Hidayatullah yang aku kenal. Tetaplah menjadi seseorang yang baiknya tak akan dapat kutemukan di tempat manapun.
Wassalam!
Tertanda: -Your Secret Admirer-


[Surat 2]
Judul : Kamu dan Rindu-Rindu yang Kini Terlarang
 Parangbanoa, 31 Maret 2018

Kamu, dimanapun kini berada.
Assalamu alaikum kepadamu Ahmad Syarif Hidayatullah
Aku ingin berkenalan denganmu. Aku adalah seseorang yang selama ini sering berusaha mengikuti jejakmu. Dalam dunia literasi namaku DarmianiYS. Kau mengenalku? Ketika menulis surat ini, aku sedang di kamarku, tadi habis selesai membaca tulisan-tulisanku beberapa hari ini. Kau tahu? Itu semua berisi tentangmu, semuanya membahas tentang bagaimana aku kepadamu, memastikan aku tak salah bicara, dengan harapan kau tidak akan tersinggung, baik oleh pengakuanku maupun oleh perasaanku, itupun jika kau membacanya.
Dalam surat ini, ada hal yang ingin kusampaikan padamu.
Aku ingin meminta maaf. Aku merasa aku harus meminta maaf kepadamu, dan kepada seseorang di sana yang selama ini menjadi penunggu pulangmu, kepada jodohmu. Jika saja aku tahu sejak dulu bahwa kau telah memiliki orang lain dalam hati dan pikiranmu, perasaanku mungkin tidak akan sejauh ini. Tapi semuanya sudah terlambat. Jangan merasa terganggu, aku tidak akan bertindak melebihi batas. Aku cukup tahu diri, Syarif.
Aku ingin berterima kasih. Ucapan terima kasih rasanya tidak akan cukup untuk membalas kebaikan-kebaikanmu selama ini. Kau tahu? Tanpa kau sadari, selama ini kau telah menjadi alasan untuk aku merasa senang. Kau telah menjadi alasan aku termotivasi untuk lebih rajin menghadiri rapat di himpunan. Pelatihan sketsa, perkusi, bahkan HmI(niat awal, tapi ketika sudah menjadi kader, tidak lagi), menurutmu aku mengikutinya dengan kemauan sendiri?
Aku ingin meminta izin. Syarif, biarkan aku jika tetap berada dalam posisi seperti ini. Biarkan saja jika aku masih memiliki perasaan aneh itu kepadamu. Biarkan aku jika selalu ingin tahu kabar tentangmu. Biarkan aku jika selalu rindu, walaupun rinduku adalah rindu yang tak seharusnya, rindu-rindu yang terlarang. Itu akan kutanggung sendiri. Sebab sudah menjadi risiko memiliki perasaan diam-diam dan terpendam. Tenang saja, aku menjamin itu tidak akan mengganggu kau bersama orang itu.
Jangan khawatir, aku tidak akan memaksakan kehendak. Kau bebas pergi kemanapun kau mau. Kau juga bebas memilih siapapun orang itu. Kau bebas melakukan apa yang kau mau. Kata kawanku, cukup doakan saja. Iya, aku berharap kau selalu berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Syarif, tidak apa-apa jika keinginanku bersama denganmu tidak menjadi realita, sungguh. Melihat kau masih ada di bumi saja, aku sudah merasa senang.

AKU RINDU
Samata, 26/03/2018
Sementara kau pergi jauh di sana, banyak rindu yang tak terlepas di sini
Sementara kau sibuk menuntut ilmu di sana, aku lelah membungkam rindu di sini
Sadarkah? Kita memang berada di bawah langit yang sama
Tapi sayangnya, kita sedang tidak di ruang yang sama
Jika ada yang bilang bahwa ia menyukaimu, aku lebih
Jika ada yang bilang bahwa ia merindukanmu, aku lebih
Kau tahu? Aku mengkhawatirkanmu sampai mau mati rasanya
Tanah Kediri: jaga dia untukku.

Kulampirkan puisi yang kutujukan padamu. Itu kubuat ketika kau pergi, dengan aku bersama sepi.
Kupikir, itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu. Aku tidak berharap apapun lagi tentang bagaimana kau perihal perasaanku. Karena aku tahu, harapan seperti itu hanya akan menyakiti. Cukup aku tahu kau telah dij****kan. Rasa sakitnya cukup. Yang perlu kau lakukan adalah menjalani kehidupan yang selama ini ingin kau jalani. Asalkan itu tidak merugikan dirimu, agamamu, dan masa depanmu.
~Syarif, ingin melihatku senang? Beritahu aku bahwa kau baik-baik saja di sana, selalu~
Wassalam!
Tertanda
DarmianiYS
 

Selasa, 24 April 2018

Aku bukan Fatimah, bukan juga Hinata. Aku adalah diriku #6


muslim.or
Parangbanoa, 24 April 2018. 20:10 WITA
Sekarang aku sedang di kamarku, baru saja sampai dari Samata, Pondok Faris. Dan baru saja mendengar kabar yang entah mengapa membuatku seperti kehilangan selera untuk tersenyum lagi, membuatku seperti merasa ada yang aneh dengan kesehatan jantungku, aku seperti sedih. Rasanya sedih sekali.
Beberapa detik mendengar kabar itu, aku merasa biasa saja, karena aku memang sudah tahu (lebih tepatnya menerka-nerka dan ternyata benar). Tapi ketika aku mulai benar-benar menyadari bahwa faktanya memang seperti itu, ada yang terasa perih, sampai-sampai aku menangis. Di depan kawan-kawanku.
Hari ini, sudah dipastikan perasaanku kepadanya adalah resmi merupakan perasaan sepihak, tak berbalas, sendirian.
Baiklah, aku akan menceritakan mengapa aku mengatakan itu, alasan air mataku terjatuh, penyebab aku merasa sedih.
Tadi ketika menjelang maghrib, aku masih di Pondok Faris bersama kawanku, Ilma dan Uki. Kami menunggu Caca dan Ninos yang masih di kampus karena alasan yang tidak jelas, untuk membahas beberapa masalah tentang salah satu di antara mereka, tanpa ku tahu hari itu juga kami akan membahas tentang aku kepadanya, tentang dia kepadaku, tentang kami.
Aku bersyukur karena memiliki kawan seperti mereka. Mereka adalah teman yang aku mau. Mereka adalah teman yang ku butuhkan. Mereka mengerti apa yang ku rasakan, mereka mencari tahu tanpa ku suruh. Dan aku sangat menyayangi mereka, entah sejak kapan. Berhenti membahas kawanku, lain kali akan ku luangkan waktu untuk menulis khusus tentang mereka.
Tadi, Caca memimpin pembicaraan.
C: Nutaukah siapa 016?
Dia:  Iya, kentara sekaliji.
C: Inisialnya?
Dia:  D.
C: Berapa huruf?
Dia:  (menghitung)… lima! Teman kelompokka di perkusi.
C: Sotta, sejak kapan nutau?
Dia:  Lamami, sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.
C: Sekarang nutaumi toh? Jadi bagaimana ini?
Dia: Dari SD sampai SMA, tidak pernahka berada dalam situasi seperti ini. Barupaka rasa pas        kuliah. Di semester awal, ada seseorang, jurusan Matematikaji, 016 juga begitu ke saya. Makanya bikinka rumor tentang itu jodoh-jodoh, supaya menjauhki.
C: Jadi apa maumu?
Dia: Pertama, saya bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Kedua, saya tidak suka diatur-atur karena saya punya kemerdekaan individu. Ketiga, saya tidak suka dikekang. Keempat, kalo sukaka dengan seseorang sampai terlalu sayang, baru itu orang tinggalkanka, hancurka. Jadi, mauja saja berteman.
C: Ada perasaanmu sama diakah?
Dia: Perasaanku ke dia sama seperti perasaanku ke kalian.
C: Untuk ke depannya juga?
Dia: Iya.
Rasanya, separuh sedih, separuh senang. Aku merasa senang karena apa yang dia katakan kepada kawanku, apa yang dia jelaskan perihal dirinya, itu sama dengan prinsipku selama ini. Aku juga bukan tipe orang yang mau berkomitmen. Aku juga bukan tipe orang yang setuju untuk berpacaran. Sudah menjadi kemauanku untuk memiliki perasaan diam diam dan terpendam. Dan sudah menjadi pilihanku agar orang yang terlibat dengan perasaanku tidak mengetahui apa yang kurasakan. Hingga tiba saat yang Dia tentukan.
Dan alasan aku merasa sedih, sudah ku katakan tadi, perasaanku untuknya telah resmi sebagai perasaan yang  bertepuk sebelah tangan. Itu saja. But now, I know I’m not OK.
Dibalik perasaan sedih, ada perasaan kecewa karena ucapannya. Untuk apa dia mengatakan kepada kawanku untuk memberitahuku bahwa dirinya tidaklah dijodohkan? Jika dia sudah tahu bahwa akulah orang yang menyukainya diam diam selama ini, untuk apa dia bertanya kepada kawanku tentang siapa sebenarnya orang yang menyukainya, dan mengatakan jika orang itu tidak mau, dia yang akan maju duluan? Kenapa seperti itu? Baik dia sengaja ataupun tidak, secara tidak langsung dia telah membuatku berharap kepadanya. Dia membuatku merasa bahwa perasaanku tidaklah sepihak. Ataukah aku yang terlalu mudah berharap? Perasaanku yang terlalu mudah menerima hal-hal yang membuat senang?
Terima kasih ya!
© TWENTY THREE | Blogger Template by Enny Law